| Potret Pendidikan di Indonesia |
Pendidikan merupakan tolak ukur kemapanan seseorang. Selama ini pendidikan sistem konvensional merupakan pendidikan pilihan yang laris manis bagaikan pisang goreng. Mulai dari buruh pabrik sampai pejabat di negeri ini mengirimkan anak mereka kesekolah dengan dalih meraih masa depan. Namun, pertentangan pemberlakuan sistem pendidikan yang berubah-ubah menyeret pertentangan hebat dikalangan masyarakat. Mulai dari kurikulum yang berubah setiap 4 tahun sekali sampai pro-kontra UAN (Ujian Akhir Nasional). Pertentangan tersebut memunculkan fenomena pemilihan pendidikan alternatif.
Masyarakat menanggapi carut marutnya pendidikan dengan berbagai macam cara. Munculnya sekolah unggulan berbasis kebebasan berfikir sampai homeschooling. Kita disibukkan berita di media massa dengan berita mengenai profil sekolah alternatif unggulan seperti, SMA Muthohari Bandung, Sekolah Qoryah Thoyyibah, Sekolah Alam, Akselerasi, sampai SBI (Sekolah Berstandar Internasional). Tak kalah hebohnya para Psikolog dan praktisi pendidikan sampai kalangan selebritis mempromosikan homeschooling. Fenomena homeschooling melirik banyak orang untuk mengenalnya bahkan mengujicoba program tersebut.
Homeschooling yang berkembang di Indonesia sekarang hampir mengarah marketisasi pendidikan. Bayangkan saja Homeschooling setingkat Sekolah Menengah Atas hampir menelan biaya 10-20 juta perbulannya. Kemerdekaan berfikir akankah dibayar mahal semahal itu.
http://bukucatatan-part1.blogspot.com/2008/12/potret-pendidikan-di-indonesia.html
Potret Dunia Pendidikan Indonesia
Sabtu kemaren tanggal 14 Juni 2008 merupakan hari yang mendebarkan bagi siswa siswi SMU kelas tiga karena pada hari itu diumumkan hasil kelulusan UNAS (Ujian Akhir Nasional). Predikat lulus merupakan satu harapan yang didambakan bagi siswa siswi SMU untuk dapat meneruskan jenjang pendidikan ke tingkat Perguruan Tinggi.
Bagi yang lulus merupakan kabar gembira karena dapat melanjutkan pendidikan, sedangkan bagi yang tidak lulus merupakan kabar sedih, karena harus mengulang di kelas tiga atau pilihan lainnya adalah mengikuti ujian persamaan.
Pada tahun ini pemerintah menerapakan 6 mata pelajaran yang diujikan dalam UNAS sedangkan tahun kemaren hanya 3 mata pelajaran. Selain itu juga pemerintah juga menaikkan grade nilai kelulusan dari sebelumnya 5,0 menjadi 5,25. Alasan pemerintah adalah untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pendidikan di Indonesia. Alasan yang masuk akal dan tujuan yang patut diraih.
Syarat kelulusan itu diterapkan sama rata di seluruh wilayah Indonesia baik untuk SMU Negeri, Swasta, SMK maupun MAN. Kenyataan dilapangan menyebutkan bahwa syarat tersebut merupakan syarat yang berat. Karena kondisi masing-masing sekolah di wilayah yang berlainan sangatlah berbeda. Bagi sekolah-sekolah yang ada di kota-kota besar dengan dukungan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai syarat tersebut mungkin dapat dengan mudah dicapai. Bagaimana dengan sekolah-sekolah yang ada di wilayah yang secara geografis, social ekonominya terbelakang? Syarat tersebut sangat berat untuk dipenuhi, mengingat sarana dan prasana pendidikan di daerah tersebut tidak memadai sama sekali.
Hal tersebut terbukti dari hasil pengumuman UNAS tersebut ada sekolah di Aceh yang 100% muridnya tidak lulus UNAS, ada lagi sekolah yang hanya 3 orang muridnya yang lulus. Suatu hal yang tragis.
Apakah adil bagi siswa-siswi yang sekolah di daerah yang kondisi social ekonominya terbelakang dengan kondisi sekolah yang memprihatinkan, dengan satu sekolah hanya ada beberapa orang guru saja, dan dengan fasilitas pendidikan yang minim untuk memenuhi syarat yang sama dengan sekolah-sekolah di kota-kota yang relative lebih baik sarana dan prasana pendidikannya?
Tentu itu merupakan suatu hal yang tidak adil. Seharusnya pemerintah memperhatikan hal tersebut dengan tidak menyama ratakan syarat kelulusan di seluruh wilayah Indonesia. Dan seharusnya pemerintah juga memberi perhatian lebih kepada sekolah-sekolah yang terletak di wilayah yang tertinggal.
Setelah pemerintah dapat menyamakan sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia baru pemerintah menerapkan syarat kelulusan yang sama di seluruh wilayah Indonesia.
http://mybluegreen.net/tak-taulah/potret-dunia-pendidikan-indonesia/
Potret Pendidikan di Indonesia
Pendidikan merupakan tolak ukur kemapanan seseorang. Selama ini pendidikan sistem konvensional merupakan pendidikan pilihan yang laris manis bagaikan pisang goreng. Mulai dari buruh pabrik sampai pejabat di negeri ini mengirimkan anak mereka kesekolah dengan dalih meraih masa depan. Namun, pertentangan pemberlakuan sistem pendidikan yang berubah-ubah menyeret pertentangan hebat dikalangan masyarakat. Mulai dari kurikulum yang berubah setiap 4 tahun sekali sampai pro-kontra UAN (Ujian Akhir Nasional). Pertentangan tersebut memunculkan fenomena pemilihan pendidikan alternatif.
Masyarakat menanggapi carut marutnya pendidikan dengan berbagai macam cara. Munculnya sekolah unggulan berbasis kebebasan berfikir sampai homeschooling. Kita disibukkan berita di media massa dengan berita mengenai profil sekolah alternatif unggulan seperti, SMA Muthohari Bandung, Sekolah Qoryah Thoyyibah, Sekolah Alam, Akselerasi, sampai SBI (Sekolah Berstandar Internasional). Tak kalah hebohnya para Psikolog dan praktisi pendidikan sampai kalangan selebritis mempromosikan homeschooling. Fenomena homeschooling melirik banyak orang untuk mengenalnya bahkan mengujicoba program tersebut.
Homeschooling yang berkembang di Indonesia sekarang hampir mengarah marketisasi pendidikan. Bayangkan saja Homeschooling setingkat Sekolah Menengah Atas hampir menelan biaya 10-20 juta perbulannya. Kemerdekaan berfikir akankah dibayar mahal semahal itu.
http://arieni2007.blogspot.com/2007/09/pendidikan-merupakan-tolak-ukur.html
POTRET PENDIDIKAN DI INDONESIA
Tuntutan era globalisasi, mendorong trend berkembangnya pola pendidikan di Indonesia ke arah pendidikan yang materialistik. Kondisi ini telah memicu pergeseran paradigma pendidikan di segala aspek terutama yang terkait dengan refleksi pendidikan, yang pada hakekatnya harus mengutamakan kebutuhan peserta didik. Hasil pendidikan dapat terefleksi pada profil lulusan yang memiliki karakter: rasa menghargai keberadaan dirinya sendiri, rasa percaya diri, komunikatif, kemampuan berpikir kritis, jiwa kebersamaan, rasa dan jiwa bertanggung jawab, kepekaan dan komitmen sosial, pemahaman terhadap sistem politik dan budaya, mampu berpikir ke depan (visi), mampu berkreasi dan berimajinasi, serta mampu melakukan refleksi dan evaluasi.
Esensi pendidikan baik dalam keluarga, masyarakat maupun sekolah sebagai satu-satunya jalur yang dapat ditempuh untuk mencetak generasi yang akan mengukir profil atau status atau karakter bangsa Indonesia, di era moderen ini nampaknya mulai mengalami erosi. Kelemahan sistem pendidikan saat ini antara lain disebabkan oleh peran keluarga terutama ibu yang tidak optimal sebagai pendidik, misalnya karena maraknya konsep gender. Jaminan bahwa setiap anak akan mendapat pendidikan yang baik dan benar masih perlu dipertanyakan. Tata sosial yang kapitalis-sekuler menyajikan menu individualis dan materialis yang harus disantap oleh para generasi mulai bayi, balita, anak-anak sampai dewasa. Dunia pendidikan memiliki andil yang tidak kecil terkait krisis multidimensi, karena tidak mampu melahirkan pribadi-pribadi utuh yang mampu menyelesaikan problematika bangsa.
Pola pendidikan di Indonesia minimal dapat dikaitkan dengan empat unsur, yang sekaligus menjadi pilar implementasinya. Ke-empat unsur tersebut adalah kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, sistem pendidikan, manajemen pendidikan, dan proses pembelajaran. Terjadinya pergeseran landasan pijak bagi pengembangan pola pendidikan dewasa ini, mewarnai pola pendidikan yang semula berorientasi pada kebutuhan siswa agar menjadi manusia dengan kepribadian yang utuh, berubah menjadi bagian dari kepentingan politik, aliran, golongan atau pribadi. Fakta yang dapat kita indera sebagai indikator adalah keterpurukan bangsa, KKN semakin luas, korupsi, keadilan hukum yang terasa semakin jauh, sementara energi intelektual sudah terkuras habis, tanda-tanda jalan keluar sebagai solusi belum nampak.
Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) mengamanatkan bahwa perguruan tinggi harus otonom, yang berarti mampu mengelola secara mandiri lembaganya serta dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. Untuk sekolah/madarasah harus dikelola dengan prinsip manajemen sekolah/madarasah, yang berarti otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan. Fakta menunjukkan bahwa wewenang otonomi yang diberikan kepada lembaga dengan tujuan agar meningkatkan tumbuh dan berkembangnya kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitas, diterjemahkan lain. Persaingan tidak sehat di antara lembaga penyelenggara pendidikan (terutama pendidikan tinggi), dengan akibat uang sumbangan pendidikan melejit, sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat dengan ekonomi lemah. Polemik rektor berebut mengelola sendiri dana segar dari calon mahasiswa, juga fakta yang sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat. Dampaknya adalah meningkatnya jumlah anak putus sekolah, sampai diberitakan anak SD terpaksa bunuh diri karena tidak mampu membayar uang SPP (yang seharusnya gratis). Standard mutu menjadi tidak baku, karena masing-masing sekolah berusaha meningkatkan mutunya dengan ”memainkan” muatan lokal dalam kurikulumnya. Akibatnya, selain biaya operasional tidak sama dan dibebankan kepada siswa, muncul sekolah favorit, unggulan dan sebagainya yang anggaran operasionalnya sangat mahal, juga dibebankan pada siswa.. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana nasib siswa yang hanya mampu masuk sekolah biasa yang tidak unggul?. Sementara standard unggul biasanya ditopang oleh performa infra struktur, yang identik dengan gedung berkeramik, ruang ber-AC, kegiatan ekstra kurikuler yang eksklusif dsb.
Untuk mewujudkan otonomi tersebut, maka UU Sisdiknas menentukan bahwa penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat harus berbentuk badan hukum (BHP) dengan persyaratan tertentu. Ada pernyataan bahwa prinsip manajemen atau pengelolaan BHP tidak mengarah pada komersialisasi atau privatisasi. Benarkah?.
Undang-undang Sisdiknas menegaskan bahwa BHP berprinsip nirlaba, artinya semua sisa lebih dari kegiatan yang dilakukan BHP harus dikembalikan untuk kepentingan pengelolaan satuan pendidikan di dalam. Faktanya SPP naik, kesejahteraan pengajar meningkat, kualitas keseluruhan hasil pembelajaran masih dipertanyakan. Baik UUD-45 maupun UU-Sisdiknas menjamin alokasi 20% dari APBN dan APBD untuk mendanai pendidikan, sehingga pemerintah tidak lepas tanggung jawab dan akan tetap mendanai penyelenggaraan pendidikan. Faktanya anggaran dana pendidikan lebih kecil dari 20%. Untuk institusi pendidikan tinggi yang berstatus BHMN harus mengelola keuangan secara mandiri dan setelah berusia 10 tahun sejak berstatus BHMN harus mampu mendanai institusinya secara mandiri. Beberapa Sekolah Dasar Negeri masih dipungut beaya semacam SPP yang jumlahnya variatif untuk setiap sekolah, tergantung kualitasnya, termasuk dana sumbangan gedung.
Menyoroti proses pembelajaran dalam pola pendidikan di Indonesia abad ke 21 dapat kita cermati mulai dari input, proses, output dan outcome sistem pendidikan. Mekanisme seleksi siswa banyak mengandung unsur KKN atau praktek politik dagang kambing, siapa yang berani harga tinggi akan mendapat kesempatan untuk mengenyam sekolah bermutu atau favorit, sehingga ada jaminan diakses pasar kerja lebih cepat terutama untuk perguruan tinggi. Beberapa sekolah (termasuk Institut Teknologi Bandung untuk perguruan tinggi) memang sudah memberlakukan subsidi silang dengan membebaskan dana sumbangan gedung bagi calon mahasiswa yang berprestasi tetapi berlatar belakang ekonomi lemah, namun persentasenya tidak banyak. Belum lagi masalah substansi atau bentuk (soal) tes masuk yang hanya mengandalkan kemampuan hard skill dalam bentuk soal klasik dari tahun ke tahun, sehingga siswa cenderung menghafal soal, tetapi tidak memahami kedalaman substansinya. Personal qualification yang tidak dijaring lewat sistem seleksi yang profesional mengakibatkan kesulitan dalam proses pembelajaran. Belum lagi masalah perubahan kurikulum yang tidak terencana dan terintegrasi antara pendidikan tingkat dasar menengah sampai dengan pendidikan tinggi. Siswa lebih dipaksa untuk menyesuaikan kurikulum tanpa mengevaluasi kemampuannya. Kurikulum berbasis kompetensi nampak berjalan searah, artinya sekolah hanya mengamati kebutuhan eksternal tanpa menyesuaikan kapasitas dan kemampuan siswa. Akibatnya siswa dibuat kewalahan, karena dijejali dengan materi yang terlalu padat, yang kadang-kadang implementasinya di masyarakat tidak terlalu relevan. Di sini nampak bahwa keseimbangan antara syakhsiyah-tsaqofah dan ilmu kehidupan tidak diperhatikan, sehingga siswa tidak mampu mengimplementasikan ilmunya dalam kehidupannya di masyarakat. Mereka menjalani proses pendidikan sekedar menggugurkan kewajiban dan menghafal ilmu pengetahuan yang ditransfer oleh pendidiknya tanpa memahami manfaatnya. Sebenarnya, integritas dalam proses pembelajaran dapat diselenggarakan dengan metode yang sangat sederhana. Sebagai contoh pada saat siswa melihat air terjun. Guru dapat mengintegrasikan ilmu satu dengan yang lain dengan obyek air terjun tersebut, misalnya bagaimana menghitung kecepatan alir (ilmu fisika), sifat air (ilmu kimia), organisme yang hidup dalam air dan manfaatnya pada sistem irigasi (ilmu Biologi), asal-usul penciptaan air (ilmu agama), bahaya air (geologi), macam-macam air ditinjau dari kebutuhan akan air bersih dan sehat (ilmu kesehatan) dsb. Dalam sistem rekruitmen sumber daya manusia (pendidik), perlu dipertimbangkan masalah personal qualification dan performance. Kalau diberlakukan sistem kontrak bagi tenaga pengajar, bagaimana jaminan kinerjanya?. Secara psikologis status kontrak akan berpengaruh pada rasa memiliki dan keterikatan dengan suatu sistem, yang derajatnya tentu lebih rendah dibandingkan tenaga pengajar berstatus tetap. Masalah output sangat erat kaitannya dengan sistem evaluasi atau asesmen dalam proses pembelajaran. Selama ini, indikator utama yang digunakan untuk menilai kualitas proses belajar mengajar atau lulusan sering didasarkan pada hasil belajar siswa yang tertera pada nilai tes hasil belajar (THB) atau nilai EBTANAS MURNI (NEM). Akibatnya atau outcome yang dapat kita indera adalah guru berlomba-lomba mentransfer materi pelajaran sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan siswa dalam mengikuti THB atau EBTANAS, sehingga siswa dipaksa untuk menghafal informasi yang disampaikan guru tanpa diberi kesempatan atau peluang sedikitpun untuk melaksanakan refleksi secara kritis. Padahal, untuk anak jenjang SD misalnya, yang harus diutamakan adalah bagaimana mengembangkan rasa ingin tahu dan daya kritis anak terhadap suatu masalah.
Kesimpulan yang dapat disari dari uraian di atas adalah sudah saatnya kita memikirkan second opinion untuk meluncurkan pola pendidikan alternatif, yang memberlakukan implementasi pengembangan syakhsiyah-tsaqofah-ilmu kehidupan secara proporsional. Kesimbangan tersebut hanya diperoleh dalam pola pendidikan islam, karena islam tidak hanya mengatur pendidikan agama dalam pengertian khusus (ritual dan ahlaq). Pendidikan Islam bukan sekedar lembaga pendidikan yang bernaung di bawah ormas/yayasan Islam. Di dalam pendidikan Islam, ada paradigma yang berbeda, yaitu adanya kesadaran individu bahwa manusia adalah abdi Allah dan khalifah fil ardh, ada kontrol sosial budaya, dan peran sistem yang dilaksanakan oleh negara.
Keunggulan sistem pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian yang utuh, sehingga akan tercapai keseimbangan nilai-nilai material, sosial, ethical, dan spiritual. Dengan sistem pendidikan Islam, akan terwujud melejitnya potensi dan membuka keajaiban, karena motivasi qur’ani dan semangat menjadi yang terbaik. Selain itu ada kejelasan skala prioritas yang ditentukan oleh hukum syara’. Akhirnya dengan sistem pendidikan islam akan tercipta sinergis mutualistis seluruh stakeholders, menghasilkan kebijakan negara yang ramah pendidikan, baik dari aspek anggaran, media, ristek, tenaga kerja, industri, dan politik luar negeri.
http://isnaeni.blog.unair.ac.id/2009/08/06/potret-pendidikan-di-indonesia/
Senin, 07 September 2009
SEJARAH ISLAM
ISLAM DI ANDALUSIA
A. ISLAM MASUK KE ANDALUSIA
Andalusia ynag kita kenal sekarang, semula disebut Vandal, artinya negeri bangsa Vandal, yang kemudian oleh bangsa Arab disebut Andalusia. Andalusia pada abad ke-2 sampai dengan abad ke-5 M menjadi wilayah kekuasaan Romawi, tetapi kemudian di taklukkan oleh bangsa Vandal pada awal abad ke-5 M.
Jelasnya di Anedalusia sebelim kedatangan agama islam, kehidupan masyarakatnya sangat memprihatinkan, terutama kelompok para para hamba sahaya yang selalu diperlakukan seperti hewan.
Kemudian setelah Witiza, raja Gothia meninggal pada tahun 710 M, dia di gantikan oleh Roderick. Tetapi kenaikan Roderick sebagai raja tidak disukai oleh para putri Witiza. Untuk merebut kekuasaan dari tangan Roderick, mereka bekerja sama dengan Graff Yulian yang sama-sama memusuhi Roderick. Kemudian Graff Yulian meminta bantuan dari Musa bin Nushir, gubernur Muawiyah di Afrika.
Untuk memenuhi permintaan itu, Musa bin Nushir memohon izin kepada khalifah walid bin abdul malik. Walid kemudain memerintahkan kepada musa untuk mengirim mata-mata terlebih dahulu mempelajari peta kekuasaan musuh. Kemudian khalifah mengirim pasukan khusus sebanyak 4000 tentara biasa dan 1000 tentara berkuda. Mereka berangkat dengan kapal yang terlah di sediakan oleh Graff Yulian di bawah pimpinan tharif bin malik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 91 H. Utusan ini kembali dengan hasil yang memuaskan.
Keberhasilan mereka membuat musa bin nushair merasa yakin bahwa kemenangan akan mereka peroleh bila di lakukukan dengan persiapan dan perhitungan lebih matang. Pada bulan sya’ban 92 H / April 711 M. Musa mempersiapkan pasukannya sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan thariq bin ziyad, yang kemudian terkenal dengan sebutan selat gilblatar atau selat jabal thariq.
Setibanya di selat itu, thariq terus melakukan gerakannya ke daerah bagian selatan kerajaan Gothia barat tanah semenanjung Iberia, dia berhasil menduduki benteng yang amat kuat. Dari sana ia terus melanjutkan ke Toledo, ibu kota kerajaan Gothia barat. Roderick tak dapat membendung kekuatan pasukan thariq dan pada akhirnya berkat bantuan bantuan dari pasukan musa bin nushair sebanyak 5000 orang, thariq dapat menguasi Cordova, Malga dan Granada. Di kota Toledo yang di kuasai thariq, ia memerintahkan kepada pasukannya untuk tidak menganggu kehidupan beragama masarakt kristen dan yahudi. Para penganut agama itu di beri kebebasan untuk menjalankan ajaran agma yang mereka anut.
BERDIRINYA KEKUASAAN BANI UMAYAH KEDUA DI ANDALUSIA
A.PENDIRI DAULAH BANI UMAYAH DI ANDALUSIA
Ketika daulah abbasiyah berkuasa, banyak pemuka yang mendukung pemerintahan daulah umayah dan keluarga bani umayah di kejar-kejar dan di tangkap. Mereka lalu di penjarakan bahkan ada di antara mereka yang di bunuh. Salah seorang keluarga bani umayah yang selamat dari kerajaan par pendukung daulah bani abbas adalah abdurrahman bin muawiyah bin hisyam bin abdul malik atau lebih di kenal dengan nama abdurrahman al-dakhil. Melalui palestina dan afrika utara, ia berhasil memasuki wilayah Andalusia. Keberhasilannya iti tidak di dapat secara mudah, tetapi melalui usaha yang gigih. Sebab pada masa itu, Andalusia telah di perintah oleh keturunan arab bernaman yusf bin abdurrahman al-fikry. Pada masa pemerintahannya banyak timbul kekacauan akibat terjadinya pertentangan antara sesama kabilah arab dan antara bangsa arab dengan bangsa barbar.
Masuknya abdurrahman ke wilayah Andalusia membuat yusuf marah. Ia berusaha mengusir abdurrahman dari wilayah kekusaannya itu. Akibat dari tindakan yusuf tersebut, abdurrahman dan pengikutnya melakukan perlawanan. Sehingga terjadilah pertempuran antara ke duanya di dekat kota cordova pada tahun 139 H / 758 M. Peperangan ini dimenangkan oleh abdurrahman al-dakhil. Dengan demikian, abdurrahman memasuki kota cordova sebagai seorang panglima besar yang membawa kemenangan. Sejak saat itulah abdurrahman al-dakhil mendirikan kerajaan islam di andalusia, sebagai kelanjutan dari kekuasaan bani umayah di damaskus yang telah dikalahkan oleh bani abbbasiyah pada tahun 132 H.
BEBERAPA AMIR YANG TERKENAL
1.Abdurrahman Al-Dakhil (138-172 H / 757-788 M)
Setelah kemenangannya tersebut,ia mulai merencanakan untuk membangun sebuah kerajaan besar. Oleh karena itu, ia melakukan langkah-langkah awal untuk memperkuat posisinya.
Langkah pertama yang dilakukan abdurrahman al-dakhil dalam usahanya untuk memperkuat posisi adalah memperbaiki kaeadaan dalam negeri. Hampir seluruh usianya di pergunakan untuk mematahkan perlawanan musuh-musuhnya, baik dari dalam maupun dari luar wilayah kekuasaanya.
2.Hisyam bin abdurrahman (172-180 H / 788-796 M)
Sepeniggalan abdurrahman, pemerintahan di pegang oleh anaknya yang bernama Hisyam. Hisyam dikenal sebagai seorang pemimpin yang saleh dan adil. Masa pemerintahannya dipergunakan untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya. Ia mempunyai perhatian yang besar terhadap rakyatnya yang miskin. Sehingga seluruh lapisan atua kelas masyarakat merasa aman dan tentran barada dio bawah pemerintahannya.
Di antara pembangunan yang dilakukan pada masa pemerintahannya ialah:
a. bidang pendidikan
Di antara jasanya yang paling basar ialah mempergiat perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian serta perluasan penggunaan bahasa arab sebagai bahasa ilmiah dan bahsa percakapan sehari-hari.
b. bidang pembangunan fisik
Pada masa pemerintahannya, Hisyam ibn abdurrahman telah berhasil menyelesaikan pembangunan Masjid Cardova yang terkenal dan megah, yang telah di mulai pembangunannya pada masa pemerintahan Abdurrahman Al-Dakhil.
c. bidang hukum
Di masa pemerintahan hisyam mulai berkembang Mazhab Maliki. Mazhab hukum itu di bawa dan di kembangkan di Andalusia oleh para pengikutnya dan mendapatkan perlindungan Hisyam ibn Abdurrahman, sehingga dalam urusan peradilan, beliau sendiri ikut menjaminnya agar hak seseorang benar-benar dapat dilindungi.
3. Al-hakam I ibn Hisyam (180-230 H / 796-822 M)
Al-Hakam I ibn Hisyam dalam usia 23 tahun telah memegang kekuasaan sebagai seorang penguasa (Amir) di Andalusia pasa tahun 180 H / 796 M menggantikan ayahnya Hisyam.
Dalam menjalankan roda pemerintahanya, Al-Hakam ini sangat jauh berbeda dengan kebijakan yang dijalankan oleh ayahnya. Ia memerintah dengan menjauhkan diri dari para fuqaha (ahli fiqih) dan ilmuan, ia suka berfoya-foya dan melakukan pekerjaan yang mungkar.
4. Abdurrahman II (Al-Ausath, 206-238 H / 822-852 M)
Abdurrahman II adalah putar Al-Hakam ibn Hisyam. Ia menjabat sebagai penguasa pada usia 31 tahun. Dalam memerintah, ia tidak seperti bapaknya yang di benci oleh rakyatnya, ia dikasihi dan dicintai rakyat sejak ia masih muda.
Selama masa pemerintahannya lebih kurang 31 tahun, banyak usaha yang dilakukannya, di antara usahanya ialah :
a. politik dalam negeri
1). Mengatasi pemberontakan
Usaha pertama yang dilakukannya adalah memadamkan dalam negeri.
2). Membangun masjid dan memperindah kota
Di masa pemerintahannya, Abdurrahman II membangun kota dan daertah Lusitania, Andalusia, Murcia, Valencia, Castile dan sebagainya. Kota-kota tersebut diperindah dengan bangunan-bangunan umum, seperti masjid-masjid besar, dan perpustakaan besar dan lainnya, termasuk pabrik senjata di Cartagena dan Cadiz.
3). Memajukan ilmu pengetahuan
Pada masa pemerintahan Abdurrahman II ini banyak lahir kaum intelektualdan para filosuf islam. Ia membangkitkan gairah masyarakat untuk melakukan kajian ilmiah dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
4). Kebebasan beragama
Banyak kaum kristen spanyol yang memeluk agama islam, padahal Abdurrahman memberikan kebebasan beragama bagi rakyat Andalusia untuk memilih agama yang mereka yakini.
b. politik luar negeri
Pada tahun 808 M Raja Alfonso II dari kerajaan Lyon mengadakan serangan ke Andalusia dengan kekuatan besar dan berhasil menguasai kota pelabuhan Porto, dan terus ke arah selatan ke wilayah Lusitania, berhasil merebut kota Lissabon. Akan tetapi Abdurrahman segera mengerahkan bala tentaranya ke utara, sehingga musuh dapat di pukul mundur ke luar wilayah Andalusia.
5. khalifah Abdurrahman III (300-350 H / 911-916 M)
Dalam usia 23 tahun Abdurrahman III menjabat penguasa tertinggi di Andalusia menggantikan Amir Abdullah. Ia merupakan Amirv kedelapan dalam sejarah Daulah Bani Umayah di Andalusia. Ia mendapat gelar “Al-Nashir”, artinya penolong. Pada awalnya kekuasaanya untuk memulihkan kembali keadaan di dalam negeri. Ia memgeluarkan ultimatum (ancaman terakhir) kepada para pemberontak dan pembangkang.
Selain itu, terdapat usaha yang dilakukan Abdurrahman III untuk memajukan kesejahteraan bangsa dan agamanya. Di antara usaha itu ialah:
a. politik dalam negeri
Dengan peringatan tersibut diatas, sebagian besar kaum pemberontak menyerah dan mereka mentaati Al-Nashir.
b. memperkuat pertahanan
Usaha yang dilakukan Al-Nashir dalam memperkuat angkatan perangnya, ialah dengan cara mengambil budak belian yang telah masuk Islam dari bangsa franka, Italia, Slavia.
c. membangun kota cordova
Khalifah Al-Nashir berhasil menjadikan kota Cordova sebagai kota terbesar dan termegah di dunia pada masa itu.
d. memajukan ilmu pengetahuan
Al-Nashir banyak memusaykan perhatiannya dalam memajukan ilmu pengetahuan. Lembaga-lembaga pendidikan banyak di dirikan pada masanya, sehingga banyak pula para sarjana atau masyarakay umum di Eropa mengunjungi dan belajarv di tempat-tempat tersebut.
e. politik luar negeri
Untuk mengatasi berbagai kesulitan yang di hadapi kerajaan, Al-Nashir melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan dan memperkuat kedudukannya.
mendirikan angkutan laut Usaha Al-Nashir mendirikan angkatan laut dengan kekuatan 200 kapal perang, membuat Andalusia berhadapan dengan Daulah Fatimayah dalam menguasai laut tengah, bahkan berhasil menguasai kota Ceuta yang merupakan kunci wilayah Mautania.
f. menumpas raja-raja kristen
Al-Nashir seringkali harus berhadapan dengan raja-raja kristen, dan ia selalu mendapat kemenangan. Akan tetapi dalam perang Part yang terjadi tahun 327 H / 938 M, ia menderita kekalahan. Di antara penyebab kekalahan itu Al-Nashir terlalu berlebihan memberikan kepercayaan kepada para tentara dari Silvia, sehingga menimbulkan kebencian orang-orang Arab dan Barbar kepadanya.
6. Al-Hakam II (350-366 H /961-976 M)
Al-Hakam II adalah putra Abdurrahman III. Pada waktu usia 45 tahun ia naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya sebagai khalifah. Ia lebih mementingkan daripada peperangan.
7. Hisyam II (366-399 H /976-1009 M)
Hisyam II menjabat sebagai khalifah sewaktu berusia 10 tahun dan sebagai khalifah ketiga atau amir ke-10 dari Daulah Bani Umayah di Andalusia. Ia memerintahkan selama 33 tahun.
B. KEMAJUAN YANG DICAPAI PADA MASA PEMERINTAHAN DAULAH BANI UMAYAH DI ANDALUSIA
Daulah Bani Umayah yang berkuasa di Andalusia selama lebih kurang 273 tahun, telah banyak kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahannya, seperti kemajuan dalam bidang :
1.kedokteran dan astronomi
Ahli kedokteran yang terkenal pada masa itu antar lain ialah Abdul Qasim Al-Zahrawi, di Eropa terkenal dengan sebutan Abulcassis.dengan tokoh-tokohnya seperti
a. ibrahim ibnu yahya Al-naqqash,ahli astronomi dapat menentukan atau memperkirakan waktu terjadinya gerhana,dapat membuat teropong untuk menentukan jarak berbagai bintang
b.Abbas ibnu farnas,ahli kimia dan astronomi menemukan cara membuat kaca dari batu
c.dua bersaudara Alhafidz dan Ummi alhasan bint ja’far dua wanita ahli kedokteran
d.Ammar al marosudi ahli mata
e.Ibnu sina(avicena) baak ilmu kedokteran
f.abul qosim az-zahrawi,ahli bedah dan pengarah kitab At-tasrif 30 jild
2.Ilmu Tafsir
Diantara ahli tafsir yang terkenal pada masa itu adalah Ibnu Athiyah, dalam tafsirnya ia telah menghilangkan cerita-cerita israiliyat. Tafsir ini dibukukan oleh Abu Abdullah Al-Qurthubi
3.Imlu Fiqih
Diantara ahli fiqih yang terkenal pada pada masa itu ialah Al Baraidi dengan karyanya Al-Tahjib dan Ibnu Said dengan karyanya Al-Kitab..
4.Ilmu Hadits
Diantara ahli hadits yang terkenal pada masa pemerintahan Daulah Umayah di Andalusia ialah, Abulwalid Al-Baji karyanya ialah,Al-Muntaqal.
5.Filsafat
Diantar ahli filsafat yang terkenal pada masa pemerintahan Daulah Umayah di Andalusia ialah Ibnu Masarrah (269-319 H / 883-931 M) diantara karyanya yang terkenal adalah Kitab Al-Huruf dan Kitab Al-Tabashirah.
6.sjarah dan sosiologi dengan tokoh sebagai berikut
A ibnu kholdun
Bibnu jubair dari valensia,ahli sejarah dan geografi
c.ibnu khazm
dibnu batutahS
Kemunduran Umayah
Kemunduran dinasti Umayah di Spayol ditandai dengan perebutan kekuasaan secara internal dinasti. Ketidak cakapan khalifah seperti Hiyam II dengan gelar al-Mu’ayyad 6diangkat menjadi khalifah ketika usia 10 tahun. Oleh karena itu, kekuasaan yang sebenarnya berada di tangan Muhammad Ibn Abi Amir al-Qaththani (hakim agung pada masa itu). Al- muayyad dipecat oleh para para pemuka Umayah dan setelah itu perebutan jabatan khalifah senantiasa terjadi. Selama 22 tahun setelah al-Mua’yyad, terjadi 14 kali penggantian khalifah yang pada umumnya melalui kudeta.
Khalifah Hasyim III dan Ibn Muhammad III yang bergelar al-Mu’tadi (418-422 H/1027-1031 M) dikudeta oleh militer dan Umayah Ibn Abd al-Rahman diminta untuk menjadi khalifah. Akan tetapi, ia pun tidak dapat menjalani pemerintahan karena berbagai teror. Oleh karena itu, Abu al-Hazm Ibn Jawhar, menghapuskan khalifah di Andalusia untuk selamanya, karena tidak ada lagi orang yang layak untuk menjadi khalifah. Kehancuran dinasti Umayah di Andalusia dilanjutkan oleh Murabithun, Muwahidun, dan Bani Ahmar.
Murabithun berhasil menguasai spanyol diantaranya pada zaman :
1. Yusuf Ibn tasyfir (1090-1106 M)
2. Ali Ibn Yusuf (1106-1143 M)
3. Tasyfin Ibn Ali (1143-1145 M)
Dinasti Muwahidun sempat menguasai spanyol pada zaman:
1. Abd al-Mu’min (1130-1163 M)
2. Abu Ya’qub Yusuf I (1163-1184 M)
3. Abu Ya’qub Yusuf al-Manshur (1184-1199 M)
4. Muhammad al-Nasir (1199-1213 M)
5. Abu Ya’qub Yusuf II (1213-1123 M)
Setelah itu, spayol dikendalikan oleh Bani Ahmar yang saling memerangi antara satu dinasti kecil dengan dinasti kecil lainnya. Karena pertentangan internal itu, tentara Kristen dengan mudah mengalahkan islam di Spanyol sampai munculnya tergedi yang sangat merugikan umat islam.
Tragedi tersebut terjadi pada tahun 1499 M. pada tahun itu cardinal Ximenez de cisnores mengunjungi Granada dan diskusi dengan para hakim dan ahli hukum disana. Hasilnya adalah, pada tahun 1502 M, muslim Granada (Spanyol) diberi dua pilihan: masuk Kristen atau keluar dari spanyol. Setelah itu umat islam di Spanyol dapat dikatakan tidak ada lagi. Meskipun demikian, pada abad XX M, muslim di Spanyol mulai dapat sedikit ruang untuk berkembang kembali.
Faktor-faktor yang menyebabkan lemahnya kerajaan islam di Andalusia:
A. Faktor Dari Dalam
1. Hilangnya persatuan dan kesatuan kaum muslimin yang mulai timbul dari masa pemerintahan Ustman bin Afan, dan seterusnya, bahkan di besar-besarkan hingga menonjol kepentingan perorangan dan golongan.
2. Kaum muslimin lebih mementingkan duniawi dari pada agama, sehingga agama tertinggal.
3. Adanya bermacam-macam mazhab dalam agama islam yang kebanyakan dianut oleh umat islam, kemudian timbullah bid’ah yang mengakibatkan tipisnya kemurnian ajaran yang berkembang di dalam masyarakat.
4. Para khalifah bukan lagi sebagai abdi rakyat dengan memegang teguh musyawarah, melainkan menjadi raja-raja kejam dan absolut, sehingga tidak lagi dapat mengendalikan kekuasaan islam.
5. Disiplin dan kecerdasan pemimpin-pemimpin islam yang menguasai adalah pemerintah.
B. Faktor Dari Luar
Bangkitnya negara-negara barat dengan penemuan benua-benua baru. Seperti:
1. Bartolomeuz Diaz yang menemukan Tanjung Harapan (1469 M)
2. Fasco da Gama yang menemukan India (1498 M)
3. colombus yang menemukan benua Amerika.
Penemuan tersebut kemudian didukung oleh refolusi industri. Selanjutnya mereka merajalela di Asia dengan merebut dan menjajah negeri-negeri islam secara ganas, pada saat itu mengalami lesu dan lemah, sehingga dunia islam hampir saja jatuh tak berdaya.7
1 Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam
2 umat islam datang ke spanyol atas undangan Ratu Julian.
3 Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam
4 Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam
5 Nasawi adalah pakar Matematika
6 Pengganti Hakam II, atau al-Muntashir, (350-366 H/961-976 M)
7 Ja’far Sanusi, Sejarah Kebudayaan Islam
________________________________________
A. ISLAM MASUK KE ANDALUSIA
Andalusia ynag kita kenal sekarang, semula disebut Vandal, artinya negeri bangsa Vandal, yang kemudian oleh bangsa Arab disebut Andalusia. Andalusia pada abad ke-2 sampai dengan abad ke-5 M menjadi wilayah kekuasaan Romawi, tetapi kemudian di taklukkan oleh bangsa Vandal pada awal abad ke-5 M.
Jelasnya di Anedalusia sebelim kedatangan agama islam, kehidupan masyarakatnya sangat memprihatinkan, terutama kelompok para para hamba sahaya yang selalu diperlakukan seperti hewan.
Kemudian setelah Witiza, raja Gothia meninggal pada tahun 710 M, dia di gantikan oleh Roderick. Tetapi kenaikan Roderick sebagai raja tidak disukai oleh para putri Witiza. Untuk merebut kekuasaan dari tangan Roderick, mereka bekerja sama dengan Graff Yulian yang sama-sama memusuhi Roderick. Kemudian Graff Yulian meminta bantuan dari Musa bin Nushir, gubernur Muawiyah di Afrika.
Untuk memenuhi permintaan itu, Musa bin Nushir memohon izin kepada khalifah walid bin abdul malik. Walid kemudain memerintahkan kepada musa untuk mengirim mata-mata terlebih dahulu mempelajari peta kekuasaan musuh. Kemudian khalifah mengirim pasukan khusus sebanyak 4000 tentara biasa dan 1000 tentara berkuda. Mereka berangkat dengan kapal yang terlah di sediakan oleh Graff Yulian di bawah pimpinan tharif bin malik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 91 H. Utusan ini kembali dengan hasil yang memuaskan.
Keberhasilan mereka membuat musa bin nushair merasa yakin bahwa kemenangan akan mereka peroleh bila di lakukukan dengan persiapan dan perhitungan lebih matang. Pada bulan sya’ban 92 H / April 711 M. Musa mempersiapkan pasukannya sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan thariq bin ziyad, yang kemudian terkenal dengan sebutan selat gilblatar atau selat jabal thariq.
Setibanya di selat itu, thariq terus melakukan gerakannya ke daerah bagian selatan kerajaan Gothia barat tanah semenanjung Iberia, dia berhasil menduduki benteng yang amat kuat. Dari sana ia terus melanjutkan ke Toledo, ibu kota kerajaan Gothia barat. Roderick tak dapat membendung kekuatan pasukan thariq dan pada akhirnya berkat bantuan bantuan dari pasukan musa bin nushair sebanyak 5000 orang, thariq dapat menguasi Cordova, Malga dan Granada. Di kota Toledo yang di kuasai thariq, ia memerintahkan kepada pasukannya untuk tidak menganggu kehidupan beragama masarakt kristen dan yahudi. Para penganut agama itu di beri kebebasan untuk menjalankan ajaran agma yang mereka anut.
BERDIRINYA KEKUASAAN BANI UMAYAH KEDUA DI ANDALUSIA
A.PENDIRI DAULAH BANI UMAYAH DI ANDALUSIA
Ketika daulah abbasiyah berkuasa, banyak pemuka yang mendukung pemerintahan daulah umayah dan keluarga bani umayah di kejar-kejar dan di tangkap. Mereka lalu di penjarakan bahkan ada di antara mereka yang di bunuh. Salah seorang keluarga bani umayah yang selamat dari kerajaan par pendukung daulah bani abbas adalah abdurrahman bin muawiyah bin hisyam bin abdul malik atau lebih di kenal dengan nama abdurrahman al-dakhil. Melalui palestina dan afrika utara, ia berhasil memasuki wilayah Andalusia. Keberhasilannya iti tidak di dapat secara mudah, tetapi melalui usaha yang gigih. Sebab pada masa itu, Andalusia telah di perintah oleh keturunan arab bernaman yusf bin abdurrahman al-fikry. Pada masa pemerintahannya banyak timbul kekacauan akibat terjadinya pertentangan antara sesama kabilah arab dan antara bangsa arab dengan bangsa barbar.
Masuknya abdurrahman ke wilayah Andalusia membuat yusuf marah. Ia berusaha mengusir abdurrahman dari wilayah kekusaannya itu. Akibat dari tindakan yusuf tersebut, abdurrahman dan pengikutnya melakukan perlawanan. Sehingga terjadilah pertempuran antara ke duanya di dekat kota cordova pada tahun 139 H / 758 M. Peperangan ini dimenangkan oleh abdurrahman al-dakhil. Dengan demikian, abdurrahman memasuki kota cordova sebagai seorang panglima besar yang membawa kemenangan. Sejak saat itulah abdurrahman al-dakhil mendirikan kerajaan islam di andalusia, sebagai kelanjutan dari kekuasaan bani umayah di damaskus yang telah dikalahkan oleh bani abbbasiyah pada tahun 132 H.
BEBERAPA AMIR YANG TERKENAL
1.Abdurrahman Al-Dakhil (138-172 H / 757-788 M)
Setelah kemenangannya tersebut,ia mulai merencanakan untuk membangun sebuah kerajaan besar. Oleh karena itu, ia melakukan langkah-langkah awal untuk memperkuat posisinya.
Langkah pertama yang dilakukan abdurrahman al-dakhil dalam usahanya untuk memperkuat posisi adalah memperbaiki kaeadaan dalam negeri. Hampir seluruh usianya di pergunakan untuk mematahkan perlawanan musuh-musuhnya, baik dari dalam maupun dari luar wilayah kekuasaanya.
2.Hisyam bin abdurrahman (172-180 H / 788-796 M)
Sepeniggalan abdurrahman, pemerintahan di pegang oleh anaknya yang bernama Hisyam. Hisyam dikenal sebagai seorang pemimpin yang saleh dan adil. Masa pemerintahannya dipergunakan untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya. Ia mempunyai perhatian yang besar terhadap rakyatnya yang miskin. Sehingga seluruh lapisan atua kelas masyarakat merasa aman dan tentran barada dio bawah pemerintahannya.
Di antara pembangunan yang dilakukan pada masa pemerintahannya ialah:
a. bidang pendidikan
Di antara jasanya yang paling basar ialah mempergiat perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian serta perluasan penggunaan bahasa arab sebagai bahasa ilmiah dan bahsa percakapan sehari-hari.
b. bidang pembangunan fisik
Pada masa pemerintahannya, Hisyam ibn abdurrahman telah berhasil menyelesaikan pembangunan Masjid Cardova yang terkenal dan megah, yang telah di mulai pembangunannya pada masa pemerintahan Abdurrahman Al-Dakhil.
c. bidang hukum
Di masa pemerintahan hisyam mulai berkembang Mazhab Maliki. Mazhab hukum itu di bawa dan di kembangkan di Andalusia oleh para pengikutnya dan mendapatkan perlindungan Hisyam ibn Abdurrahman, sehingga dalam urusan peradilan, beliau sendiri ikut menjaminnya agar hak seseorang benar-benar dapat dilindungi.
3. Al-hakam I ibn Hisyam (180-230 H / 796-822 M)
Al-Hakam I ibn Hisyam dalam usia 23 tahun telah memegang kekuasaan sebagai seorang penguasa (Amir) di Andalusia pasa tahun 180 H / 796 M menggantikan ayahnya Hisyam.
Dalam menjalankan roda pemerintahanya, Al-Hakam ini sangat jauh berbeda dengan kebijakan yang dijalankan oleh ayahnya. Ia memerintah dengan menjauhkan diri dari para fuqaha (ahli fiqih) dan ilmuan, ia suka berfoya-foya dan melakukan pekerjaan yang mungkar.
4. Abdurrahman II (Al-Ausath, 206-238 H / 822-852 M)
Abdurrahman II adalah putar Al-Hakam ibn Hisyam. Ia menjabat sebagai penguasa pada usia 31 tahun. Dalam memerintah, ia tidak seperti bapaknya yang di benci oleh rakyatnya, ia dikasihi dan dicintai rakyat sejak ia masih muda.
Selama masa pemerintahannya lebih kurang 31 tahun, banyak usaha yang dilakukannya, di antara usahanya ialah :
a. politik dalam negeri
1). Mengatasi pemberontakan
Usaha pertama yang dilakukannya adalah memadamkan dalam negeri.
2). Membangun masjid dan memperindah kota
Di masa pemerintahannya, Abdurrahman II membangun kota dan daertah Lusitania, Andalusia, Murcia, Valencia, Castile dan sebagainya. Kota-kota tersebut diperindah dengan bangunan-bangunan umum, seperti masjid-masjid besar, dan perpustakaan besar dan lainnya, termasuk pabrik senjata di Cartagena dan Cadiz.
3). Memajukan ilmu pengetahuan
Pada masa pemerintahan Abdurrahman II ini banyak lahir kaum intelektualdan para filosuf islam. Ia membangkitkan gairah masyarakat untuk melakukan kajian ilmiah dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
4). Kebebasan beragama
Banyak kaum kristen spanyol yang memeluk agama islam, padahal Abdurrahman memberikan kebebasan beragama bagi rakyat Andalusia untuk memilih agama yang mereka yakini.
b. politik luar negeri
Pada tahun 808 M Raja Alfonso II dari kerajaan Lyon mengadakan serangan ke Andalusia dengan kekuatan besar dan berhasil menguasai kota pelabuhan Porto, dan terus ke arah selatan ke wilayah Lusitania, berhasil merebut kota Lissabon. Akan tetapi Abdurrahman segera mengerahkan bala tentaranya ke utara, sehingga musuh dapat di pukul mundur ke luar wilayah Andalusia.
5. khalifah Abdurrahman III (300-350 H / 911-916 M)
Dalam usia 23 tahun Abdurrahman III menjabat penguasa tertinggi di Andalusia menggantikan Amir Abdullah. Ia merupakan Amirv kedelapan dalam sejarah Daulah Bani Umayah di Andalusia. Ia mendapat gelar “Al-Nashir”, artinya penolong. Pada awalnya kekuasaanya untuk memulihkan kembali keadaan di dalam negeri. Ia memgeluarkan ultimatum (ancaman terakhir) kepada para pemberontak dan pembangkang.
Selain itu, terdapat usaha yang dilakukan Abdurrahman III untuk memajukan kesejahteraan bangsa dan agamanya. Di antara usaha itu ialah:
a. politik dalam negeri
Dengan peringatan tersibut diatas, sebagian besar kaum pemberontak menyerah dan mereka mentaati Al-Nashir.
b. memperkuat pertahanan
Usaha yang dilakukan Al-Nashir dalam memperkuat angkatan perangnya, ialah dengan cara mengambil budak belian yang telah masuk Islam dari bangsa franka, Italia, Slavia.
c. membangun kota cordova
Khalifah Al-Nashir berhasil menjadikan kota Cordova sebagai kota terbesar dan termegah di dunia pada masa itu.
d. memajukan ilmu pengetahuan
Al-Nashir banyak memusaykan perhatiannya dalam memajukan ilmu pengetahuan. Lembaga-lembaga pendidikan banyak di dirikan pada masanya, sehingga banyak pula para sarjana atau masyarakay umum di Eropa mengunjungi dan belajarv di tempat-tempat tersebut.
e. politik luar negeri
Untuk mengatasi berbagai kesulitan yang di hadapi kerajaan, Al-Nashir melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan dan memperkuat kedudukannya.
mendirikan angkutan laut Usaha Al-Nashir mendirikan angkatan laut dengan kekuatan 200 kapal perang, membuat Andalusia berhadapan dengan Daulah Fatimayah dalam menguasai laut tengah, bahkan berhasil menguasai kota Ceuta yang merupakan kunci wilayah Mautania.
f. menumpas raja-raja kristen
Al-Nashir seringkali harus berhadapan dengan raja-raja kristen, dan ia selalu mendapat kemenangan. Akan tetapi dalam perang Part yang terjadi tahun 327 H / 938 M, ia menderita kekalahan. Di antara penyebab kekalahan itu Al-Nashir terlalu berlebihan memberikan kepercayaan kepada para tentara dari Silvia, sehingga menimbulkan kebencian orang-orang Arab dan Barbar kepadanya.
6. Al-Hakam II (350-366 H /961-976 M)
Al-Hakam II adalah putra Abdurrahman III. Pada waktu usia 45 tahun ia naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya sebagai khalifah. Ia lebih mementingkan daripada peperangan.
7. Hisyam II (366-399 H /976-1009 M)
Hisyam II menjabat sebagai khalifah sewaktu berusia 10 tahun dan sebagai khalifah ketiga atau amir ke-10 dari Daulah Bani Umayah di Andalusia. Ia memerintahkan selama 33 tahun.
B. KEMAJUAN YANG DICAPAI PADA MASA PEMERINTAHAN DAULAH BANI UMAYAH DI ANDALUSIA
Daulah Bani Umayah yang berkuasa di Andalusia selama lebih kurang 273 tahun, telah banyak kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahannya, seperti kemajuan dalam bidang :
1.kedokteran dan astronomi
Ahli kedokteran yang terkenal pada masa itu antar lain ialah Abdul Qasim Al-Zahrawi, di Eropa terkenal dengan sebutan Abulcassis.dengan tokoh-tokohnya seperti
a. ibrahim ibnu yahya Al-naqqash,ahli astronomi dapat menentukan atau memperkirakan waktu terjadinya gerhana,dapat membuat teropong untuk menentukan jarak berbagai bintang
b.Abbas ibnu farnas,ahli kimia dan astronomi menemukan cara membuat kaca dari batu
c.dua bersaudara Alhafidz dan Ummi alhasan bint ja’far dua wanita ahli kedokteran
d.Ammar al marosudi ahli mata
e.Ibnu sina(avicena) baak ilmu kedokteran
f.abul qosim az-zahrawi,ahli bedah dan pengarah kitab At-tasrif 30 jild
2.Ilmu Tafsir
Diantara ahli tafsir yang terkenal pada masa itu adalah Ibnu Athiyah, dalam tafsirnya ia telah menghilangkan cerita-cerita israiliyat. Tafsir ini dibukukan oleh Abu Abdullah Al-Qurthubi
3.Imlu Fiqih
Diantara ahli fiqih yang terkenal pada pada masa itu ialah Al Baraidi dengan karyanya Al-Tahjib dan Ibnu Said dengan karyanya Al-Kitab..
4.Ilmu Hadits
Diantara ahli hadits yang terkenal pada masa pemerintahan Daulah Umayah di Andalusia ialah, Abulwalid Al-Baji karyanya ialah,Al-Muntaqal.
5.Filsafat
Diantar ahli filsafat yang terkenal pada masa pemerintahan Daulah Umayah di Andalusia ialah Ibnu Masarrah (269-319 H / 883-931 M) diantara karyanya yang terkenal adalah Kitab Al-Huruf dan Kitab Al-Tabashirah.
6.sjarah dan sosiologi dengan tokoh sebagai berikut
A ibnu kholdun
Bibnu jubair dari valensia,ahli sejarah dan geografi
c.ibnu khazm
dibnu batutahS
Kemunduran Umayah
Kemunduran dinasti Umayah di Spayol ditandai dengan perebutan kekuasaan secara internal dinasti. Ketidak cakapan khalifah seperti Hiyam II dengan gelar al-Mu’ayyad 6diangkat menjadi khalifah ketika usia 10 tahun. Oleh karena itu, kekuasaan yang sebenarnya berada di tangan Muhammad Ibn Abi Amir al-Qaththani (hakim agung pada masa itu). Al- muayyad dipecat oleh para para pemuka Umayah dan setelah itu perebutan jabatan khalifah senantiasa terjadi. Selama 22 tahun setelah al-Mua’yyad, terjadi 14 kali penggantian khalifah yang pada umumnya melalui kudeta.
Khalifah Hasyim III dan Ibn Muhammad III yang bergelar al-Mu’tadi (418-422 H/1027-1031 M) dikudeta oleh militer dan Umayah Ibn Abd al-Rahman diminta untuk menjadi khalifah. Akan tetapi, ia pun tidak dapat menjalani pemerintahan karena berbagai teror. Oleh karena itu, Abu al-Hazm Ibn Jawhar, menghapuskan khalifah di Andalusia untuk selamanya, karena tidak ada lagi orang yang layak untuk menjadi khalifah. Kehancuran dinasti Umayah di Andalusia dilanjutkan oleh Murabithun, Muwahidun, dan Bani Ahmar.
Murabithun berhasil menguasai spanyol diantaranya pada zaman :
1. Yusuf Ibn tasyfir (1090-1106 M)
2. Ali Ibn Yusuf (1106-1143 M)
3. Tasyfin Ibn Ali (1143-1145 M)
Dinasti Muwahidun sempat menguasai spanyol pada zaman:
1. Abd al-Mu’min (1130-1163 M)
2. Abu Ya’qub Yusuf I (1163-1184 M)
3. Abu Ya’qub Yusuf al-Manshur (1184-1199 M)
4. Muhammad al-Nasir (1199-1213 M)
5. Abu Ya’qub Yusuf II (1213-1123 M)
Setelah itu, spayol dikendalikan oleh Bani Ahmar yang saling memerangi antara satu dinasti kecil dengan dinasti kecil lainnya. Karena pertentangan internal itu, tentara Kristen dengan mudah mengalahkan islam di Spanyol sampai munculnya tergedi yang sangat merugikan umat islam.
Tragedi tersebut terjadi pada tahun 1499 M. pada tahun itu cardinal Ximenez de cisnores mengunjungi Granada dan diskusi dengan para hakim dan ahli hukum disana. Hasilnya adalah, pada tahun 1502 M, muslim Granada (Spanyol) diberi dua pilihan: masuk Kristen atau keluar dari spanyol. Setelah itu umat islam di Spanyol dapat dikatakan tidak ada lagi. Meskipun demikian, pada abad XX M, muslim di Spanyol mulai dapat sedikit ruang untuk berkembang kembali.
Faktor-faktor yang menyebabkan lemahnya kerajaan islam di Andalusia:
A. Faktor Dari Dalam
1. Hilangnya persatuan dan kesatuan kaum muslimin yang mulai timbul dari masa pemerintahan Ustman bin Afan, dan seterusnya, bahkan di besar-besarkan hingga menonjol kepentingan perorangan dan golongan.
2. Kaum muslimin lebih mementingkan duniawi dari pada agama, sehingga agama tertinggal.
3. Adanya bermacam-macam mazhab dalam agama islam yang kebanyakan dianut oleh umat islam, kemudian timbullah bid’ah yang mengakibatkan tipisnya kemurnian ajaran yang berkembang di dalam masyarakat.
4. Para khalifah bukan lagi sebagai abdi rakyat dengan memegang teguh musyawarah, melainkan menjadi raja-raja kejam dan absolut, sehingga tidak lagi dapat mengendalikan kekuasaan islam.
5. Disiplin dan kecerdasan pemimpin-pemimpin islam yang menguasai adalah pemerintah.
B. Faktor Dari Luar
Bangkitnya negara-negara barat dengan penemuan benua-benua baru. Seperti:
1. Bartolomeuz Diaz yang menemukan Tanjung Harapan (1469 M)
2. Fasco da Gama yang menemukan India (1498 M)
3. colombus yang menemukan benua Amerika.
Penemuan tersebut kemudian didukung oleh refolusi industri. Selanjutnya mereka merajalela di Asia dengan merebut dan menjajah negeri-negeri islam secara ganas, pada saat itu mengalami lesu dan lemah, sehingga dunia islam hampir saja jatuh tak berdaya.7
1 Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam
2 umat islam datang ke spanyol atas undangan Ratu Julian.
3 Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam
4 Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam
5 Nasawi adalah pakar Matematika
6 Pengganti Hakam II, atau al-Muntashir, (350-366 H/961-976 M)
7 Ja’far Sanusi, Sejarah Kebudayaan Islam
________________________________________
Langganan:
Postingan (Atom)